KursusHP ServisHP Servis EMMC Ganti EMMC kursus teknisi handphone kursus reparasi handphone kursus servis handphone kursus bongkar pasang handphone kursus ganti LCD handphone kursus ganti baterai handphone kursus ganti kamera handphone kursus ganti flash handphone kursus ganti speaker handphone kursus ganti port charger handphone kursus ganti komponen handphone lainnya kursus teknisi handphone murah kursus teknisi handphone cepat kursus teknisi handphone bergaransi kursus teknisi hanpphone dekat

Minggu, 13 Februari 2011

Susahnya 'Menjadi Digital'


ilustrasi (inet)

Jakarta - Seberapa well connected kita sebenarnya? Seberapa ‘digital’?

Pertanyaan gak penting ini tiba-tiba menggelitik dan membuat saya mencari tahu jawabannya, ketika beberapa hari yang lalu, seorang kawan mengomel panjang pendek di twitter.

“Kirim email ke temen udah 2 minggu, ternyata belum dibaca. Malah nyalahin ‘kenapa gak sms kalo baru kirim email sih? Kan bisa langsung aku cek!’”

Cerita lain lagi, satu saat saya harus mengajar kelas blog dan social media di sebuah kota di pulau seberang. Di sana, selama bertahun-tahun, sudah ada komunitas blogger. Mereka punya wadah untuk berkomunikasi antar sesama anggota komunitas. Ada situs resmi, ada mailing list.

Herannya, di kota yang secara umum koneksi internetnya sudah lumayan bagus ini, komunitas ini bisa dibilang jalan di tempat. Milis mereka mati suri.

“Di sini emang gitu. Gak tiap hari kita buka milis atau ngecek email.”

Jawaban ini terasa aneh buat saya –dan pasti buat sebagian besar orang di lingkungan saya-- yang terbiasa dengan segala sesuatu yang serba cepat dan real time. Bahkan hal pertama yang dilakukan pada saat bangun tidur adalah...bukan minum air putih atau ke kamar mandi, tapi ngecek email. Dan twitter, tentu saja.

Untuk kasus di sebuah kota yang saya ceritakan di atas, ada yang terasa janggal. Pada kesempatan bertemu dengan lebih banyak orang keesokan harinya, saya mencatat bahwa sebagian besar dari mereka sudah memiliki handset pintar nan canggih, yang jelas-jelas memiliki fitur push email. Lantas bagaimana bisa, komunitas dan milis kawan-kawan saya ini sepi?

Padahal data terakhir –meski tak ada angka pasti karena angkanya terus berubah— jumlah pengguna Blackberry di Indonesia saat ini berkisar antara 3-4 juta orang. Padahal yang pinter bukan cuma Blackberry. Ada banyak sekali smartphone yang memungkinkan pemiliknya ‘menjadi digital’.

Pertanyaan-pertanyaan di atas sedikit terjawab ketika suatu malam saya nongkrong bareng beberapa orang teman, di satu tempat di kawasan Pondok Indah. Dari Kemal Arsjad, CEO Better-B, perusahaan pengembang aplikasi Blackberry di Indonesia, saya jadi tahu satu fakta menarik, yang barangkali ada hubungannya dengan cerita saya tadi.

Tahun 2009, ketika jumlah pengguna Blackberry di negeri ini tercatat kurang lebih 1 hingga 1,5 juta orang, sekitar 50 ribu user handset tersebut, terdeteksi di salah satu perusahaan telco besar, tidak mengaktifkan layanan BIS (Blackberry Internet Service). Artinya, mereka menggunakannya hanya untuk menelpon dan saling berkirim sms. Artinya lagi, mereka membeli barang mahal itu bukan untuk berseluncur di internet, bukan untuk memudahkan pekerjaan mereka.

Dan ternyata, ini terjadi bukan hanya di luar lingkaran saya saja. Bukan hanya di tempat yang ‘jauh’. Teman dekat saya pun, yang sehari-harinya terlihat canggih dan urban, tergagap-gagap menghadapi dunia saya. Berikut saya kutip percakapan aneh (lewat sms) dengannya pada suatu siang.

Saya: mas, cek inbox ya..
Dia: wah, belum nonton tivi dari pagi. emang ada apaan tadi di inbox?
Saya: ngamuk

Venus Tentang Penulis: Venus adalah seorang blogger dan social media specialist. Ia bisa dihubungi di http://venus-to-mars.com atau melalui akun @venustweets di Twitter.
( wsh / wsh )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages